Minggu, 30 Oktober 2016

KUANTIFIKASI

KUANTIFIKASI
Kuantifikasi adalah suatu istilah yang menyatakan “berapa banyak” dari suatu objek dalam suatu sistem. Misalkan P(x) adalah pernyataan yang menyangkut variabel x dan q adalah sebuah himpunan, maka P adalah fungsi preposisi jika untuk setiap x D berlaku P(x) adalah berlaku sebuah proposisi.
Contoh :
Misalkan P(x) = pernyataan dengan x adalah sebuah bilangan genap bulat.
D(x) = himpunan bilangan bulat positif.
Maka fungsi proposisi P(x) dapat ditulis :
Jika x = 1 maka proposisinya 1 adalah bilangan bulat genap [F]
Jika x = 2 maka proposisinya 2 adalah bilangan bulat genap [T] dan seterusnya.
Jadi dapat kita lihat ada sejumlah (kuantitas) proposisi yang benar. Untuk menyatakan suatu kuantitas suatu objek dalam proposisi tersebut digunakan notasi-notasi yang disebut kuantor.

  1. MACAM-MACAM KUANTOR
  1. Kuantor Universal (∀)
Misalkan p(x) sebagai suatu fungsi proposisional yang didefinisikan dalam suatu himpunan A. Perhatikan ekspresi berikut :
( atau
dibaca “untuk setiap x dalam A, p(x) adalah suatu pernyataan yang benar” atau untuk singkatnya, “Untuk semua x, p(x)”. Tanda dibaca “untuk setiap” atau “untuk semua”.
( atau Tp = {x│x
Contoh :
  1. Misalkan x adalah bilangan real, maka (x) [x2 + 2 > 0] mempunyai nilai kebenaran T.
  2. Misalkan x adalah bilangan real, maka(x) [x2 + 1 = 0] nilai kebenarannya F.




  1. Kuantor Existensial
Misalkan p(x) sebagai suatu fungsi proposisional yang didefinisikan dalam suatu himpunan A. Perhatikan ekspresi berikut :
( atau dibaca “untuk setiap x dalam A, p(x) adalah suatu pernyataan yang benar” atau untuk singkatnya, “Untuk semua x, p(x)”. Tanda dibaca “ada” atau “untuk suatu” atau “untuk paling tidak satu”.
( atau Tp = {x│x
Contoh :
  1. (Ǝx) [x2 + 1 = 0], dibaca “ada paling sedikit satu x, sehingga x2 + 1 = 0”. Nilai kebenaran pernyataan ini adalah F.
  2. (Ǝx) [2x + 5 ≠ 2 + 2x], dibaca “ ada paling sedikt satu x, sehingga 2x + 5 ≠ 2 + 2x”. nilai kebenarannya adalah T



SEJARAH NAMA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu Negara. Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Terbentuknya Indonesia tidak lepas dari sejarah masa lampau. Termasuk terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk di dalamnya bagaimana kata “Indonesia” itu muncul.
Banyak masyarakat Indonesia yang kurang mengerti tentang sejarah nama Indonesia. Baik siapa pencetusnya maupun arti dari kata “Indonesia” tersebut. Dalam nama Negara Indonesia tersirat nilai kebangsaan dan nilai nasionalisme.
Sebagian besar masyarakat Indonesia acuh terhadap sejarah tersebut bahkan banyak yang tidak mau mengerti tentang semua itu. Karena pada hakekatnya rasa nasionalisme yang ada pada diri mereka mulai pudar. Padahal pengetahuan tentang sejarah di suatu Negara yang ditempati sangatlah penting. Oleh karena itu kita harus mempelajari dan mengetahui maksud yang terkandung dari nama Indonesia.

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana sejarah nama Indonesia?
  2. Apa tujuan mempelajari sejarah nama indonesia?

  1. Tujuan Makalah
  1. Mengetahui sejarah nama Indonesia.
  2. Mengetahui tujuan mempelajari sejarah nama Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur"), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):

"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago . Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanyasinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").









Politik

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. 

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,

"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.










BAB III

PENUTUP



Kesimpulan


Nama Indonesia berasal dari bahasa Latin, Indos dan Nesos yang artinya India dan pulau-pulau. Nama Indonesia yang dimaksud adalah pulau-pulau yang ada di Samudera India dan itulah yang dimaksud sebagai satuan pulau yang kemudian disebut dengan Indonesia. Pada sekitar tahun 1920 partai-partai politik dan organisasi massa zaman Hindia Belanda dan organisasi pelajar mahasiswa Indonesia di Nederland sudah menggunakan sebutan Indonesia. Misalnya, nama perhimpunannya sejak tahun 1922 telah diganti namanya dengan Perhimpunan Indonesia. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya nama tersebut lebih banyak lagi dipergunakan. Melalui Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dan juga semenjak hari kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, istilah Indonesia menjadi nama resmi di seluruh tanah air, bangsa, dan negara kita Indonesia.













DAFTAR PUSTAKA



Harian Kompas edisi 29 Oktober 2015, di halaman 4 dengan judul "Asal-usul Nama Indonesia".
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia (diakses pada 21 September 2016, pukul 13:42)
Darkley, Steven. The History of Indonesia. Amerika: ABC-CLIO, 2005
Ricklefs, Merle Calvin. A history of Modern Indonesia Sincew C.1200. Amerika: Stanford University Press, 2001





MAKALAH TAUHID : KORELASI ANTARA IMAN. ISLAM DAN IHSAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

Hakikat manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah semata-mata untuk ta’abbudiyaitu penghambaan yang penuh dengan cara beribadah hanya karena Allah SWT. Beribadah tanpa ilmu tiada guna dan akan sia-sia. Ada tiga komponen yang saling berkaitan satu sama lain dan sangat urgen untuk dijaga dan diamalkan oleh seorang hamba. Tiga komponen dasar yang menjadikan sempurnanya predikat hamba disisi tuhannya. Tiga komponen tersebut adalah Iman, Islam, dan Ihsan.
Seseorang dikatakan beriman jikalau mereka meyakini dan membenarkan adanya Allah ta’ala tuhan yang maha Esa, adanya Malaikat Allah, adanya Rasul, Kitab-kitab samawi, hari Kiamat serta adanya Qadla’ dan Qadar. Sedangkan seseorang dikatakan muslim ketika ia melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan agama dan dikatakan muhsin ketika seseorang dapat merasakan manisnya beribadah serta selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, pada ujungnya segala yang diperbuat lillahita’ala hanya karena-Nya.
Maka dari itu, mengingat betapa pentingnya tiga komponen tersebut, makalah ini dibuat untuk terlebih dahulu mengetahui apa itu iman, islam dan ihsan, mengetahui rukun-rukun iman dan islam, mengetahui tingkatan-tingkatan dalam iman maupun islam, serta korelasi antarketiga komponen tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Iman, Islam, dan Ihsan?
2.      Bagaimana Rukun-rukun Iman dan Islam?
3.      Bagaimana tingkatan-tingkatan dalam Iman dan Islam dan pencapaian muhsin?
4.      Bagaimana Korelasi antara Iman, Islam, dan Ihsan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan

1.      Pengertian Iman
Iman adalah kepercayaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.Syahadatain (dua persaksian: bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah) merupakan suatu pernyataan sebagai kunci dalam memasuki gerbang Islam. Pernyataan bahwa hanya Allah (Yang Esa) satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, merupakan pokok ajaran yang menjadi misi segala Nabi yang pernah diutus oleh Allah ke bumi di sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Ar- Raghib al-Ashfahani (ahli kamus Al-quran) mengatakan, iman didalam Al-quran terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas dibibir saja padahal dalam hati dan perbuatannya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatannya saja, sedang hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan di amalkan dalam perbuatan sehari-hari.[1]
Iman itu perkataan dan perbuatan, yaitu perkataan hati dan lisan, dan perbuatan hati, lisan, dan anggota badan. Ia bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat, dan orang yang beriman itu bertingkat keimanannya.
Firman Allah
ولكن الله حبب اليكم الا يمان و زينه في قلوبكم ...
“… tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu…” (al-hujurat: 7)
Perkataan dan perbuatan adalah makna syahadatain (persaksian tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah), yang seseorang tidak sah memeluk agama Islam tanpa dua kalimat syahadat ini. Ia merupakan amalan hati dengan mengitikadkannya dan amalan lisan dengan mengucapkannya dengan segala konsekuensi. Allah berfirman,
… وماكان الله ليضيع ايما نكم
“… dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu…” (al- Baqarah: 143)
Yang dimaksudkan oleh “imanmu” dalam ayat ini adalah shalat yang dilaksanakan dengan menghadap ke Baitul Maqdis sebelum diciptakannya perubahan kiblat.
Di sini, shalat secara keseluruhan disebut iman, karena shalat menghimpun perbuatan hati, lisan, dan anggota badan. Nabi Muhammad SAW juga menjadikan jihad, ibadah lailatul qadar, puasa Ramadhan, shalat tarawih, dan shalat lima waktu sebagai iman. Ketika beliau ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.”
Berikut ini dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangnya iman
… المؤمنين ليزدادوا ايمانا مع ايمانهم
“… supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…” (al-Fath: 4)
ىهد وزدنهم
“… dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)
“… adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya…” (at-Taubah: 124)[2]



2.      Pengertian Islam

Secara genetik kata Islam berasal dari Bahasa Arab terambil dari kata “salima” yang berarti selamat sentosa. Dari kata itu dibentuk kata “aslama” yang berarti menyerah, tunduk, patuh, dan taat.  Kata “aslama” menjadi pokok kata Islam. Sebab itu orang yang melakukan “aslama” atau masuk islam dinamakan Muslim. Selanjutnya dari kata “salima” juga terbentuk kata “silmun” dan “salamun” yang berarti damai. Karenanya seorang yang menyatakan dirinya muslim adalah harus damai dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Penyebutan orang-orang Barat terhadap Islam sebagai Moehammedanism dan Moehamadan, bukan saja tidak tepat tetapi salah secara prinsipil (Nasrudin Razak, 1985: 55). Istilah ini mengandung arti Islam adalah paham Muhammad atau pemujaan terhadap Muhammad, sebagaimana perkataan Kristen dan Kekristenan yang mengadung arti pemujaan terhadap Kristus.[3]
Islam artinya penyerahan diri kepada Allah, tuhan yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, dan Maha Esa. Penyerahan itu diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan untuk menerima dan melakukan apa saja perintah dan larangan-Nya. Tunduk pada aturan dan undang-undang yang diturunkan kepada manusia melalui hamba pilihan-Nya (para rasul). Aturan dan undang-undang yang dibuat oleh Allah itu dikenal dengan istilah “Syari’ah”. Kadang-kadang syari’ah itu disebut juga din (agama). Innaddina ‘indallahi al-islam (sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam QS. 3:19), karena memang agama di sisi Allah ialah penyerahan yang sesunggguhnya kepada Allah. Maka walaupun seseorang mangaku memeluk agama Islam, kalau tidak menyerah yang sesungguhnya kepada Allah, tidak mau mematuhi suruhan dan larangannya, belumlah dia Islam.
Dengan memasuki Islam seseorang akan selamat, damai, dan sentosa dalam kehidupan yang seimbang lahir dan batin, dunia dan akhirat. Islam memang mempunyai arti (selamat, damai, dan sentosa), suatu agama yang diturunkan oleh Allah kepada segenap nabi dan rasul-Nya. Allah jua menegaskan bahwa siapa saja yang memeluk agama selain Islam tidak akan diterima (QS. 3:85), karena itu tentulah para nabi membawa dan memeluk ini, karena Islam memang diperuntukkan bagi segenap manusia. Ajaran Islam itu, oleh karenanya merata, mengatur manusia dalam segala seginya, bukan semata mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya (alam semesta).

3.      Pengertian Ihsan

Ihsan, menurut kamus berasal dari kata: ahsana-yuhsinu-ihsan berarti, baik, bagus, kebajikan atau saleh. Menurut makna istilah, seperti dikemukakan dalam hadits nabi di permulaan tulisan ialah: “engkau menyembah Allag seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.”[4]


B.     Rukun-rukun Iman dan Islam

1.      Rukun Iman

  1. Iman Kepada Allah
Yakni beriman kepada rububiyyah Allah Swt, maksudnya : Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur segala urusan, Beriman kepada uluhiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah sajalah tuhan yang berhak di sembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil, iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya maksudnya: bahwasanya Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat-Nya yang sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-quran dan Sunnah Rasul-Nya.
  1. Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
Malaikat adalah hamba Allah yang mulia, mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya, Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas, Diantaranya adalah : Jibril tugasnya menyampaikan wahyu, Mikail mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan, Israfil meniup sangsakala di hari kiamat, Izrail (malaikat maut), Raqib , Atit, mencatat amal perbutan manusia, Malik menjaga neraka, Ridwan menjaga surga, dan malaikat-malaikat yang lain yang hanya Allah Swt yang dapat mengetahuinya.
  1. Iman Kepada Kitab-kitab Allah
Allah yang Maha Agung dan Mulia telah menurunkan kepada para Rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Diantaranya: kitab taurat diturunkan kepada Nabi Musa, Injil diturunkan kepada Nabi Isa, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud, Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, Al-quran diturunkan Allah Swt, kepada Nabi Muhammad Saw. Allah telah menjamin untuk menjaga dan memeliharanya, karena ia akan menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.
  1. Iman Kepada Rasul Allah
Allah telah mengutus kepada maakhluk-Nya para rasul, rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad Saw, dan semua itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat ketuhanan, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw,yang diutus untuk seluruh manusia, maka tidak ada nabi sesudahnya.
  1. Iman Kepada Hari Akhir
Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal ditempat yang penuh kenikmatan atau ditempat siksaan yang amat pedih. Beriman kepada hari akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.[5]
  1. Iman Kepada Qadha’ dan Qadar
Iman kepada qada dan qadar Allah adalah salah satu sendi akidah Islam. Dalam pembicaraan sehari-hari disingkat dengan sebutan takdir (taqdir). Berbicara tentang takdir Allah memang bukan sesuatu yang mudah. Sebab yang kita bicarakan langsung menyangkut kehendak Tuhan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Beriman kepada qada dan qadar Allah adalah rukun keenam dari rukun iman. Sebagaimana dalam jawaban
Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril tentang iman, beliau bersabda:
Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qada-Nya, yang baik maupun yang buruk.” (HR.Buhkari dan Muslim). Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an surah An-Naml [27]: 65 yang artinya “katakanlah tak seorang pun di laangit maupun di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”[6]


2.      Rukun Islam

  1. Dua Kalimat Syahadat
Dua kalimat syahadat itu adalah laksana anak kunci yang dengannya manusia masuk ke dalam alam keselamatan (Islam). Sebagaimana keterangan Hadits Nabi : “dari Mu’az berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: barangsiapa yang akhir katanya laa ilaaha illallaah, maka dia pasti masuk surga.”
Kalimat “laa ilaaha illallah” tersusun dalam bentuk dimulai dengan peniadaan, yaitu tiada tuhan, baru kemudian disusul dengan suatu penegasan : “melaikan Allah!”. Ini berarti bahwa seorang muslim dalam hidupnya harus membersihkan segala macam tuhan, kepercayaan, keyakinan, aqidah, dan lain-lain sebagainya lebih dahulu. Yang ada dalam kalbunya hanyalah satu tuhan, satu kepercayaan, satu keyakinan dan satu aqidah ialah hanya kepada Zat yang bernama Allah SWT.

  1. Shalat
Allah telah mensyari’atkan shalat 5 waktu setiap hari sebagai hubunganantara seorang muslim dengan Tuhannya. Didalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, disamping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan mungkar. Dan Alah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka  dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Shalat terdiri dari :
  • Shalat wajib (subuh, dzuhur, ashar, magrib, Isya’)
  • Shalat sunnah
- Shalat rawatib
- Shalat dhuha
- Shalat tahajjud
- Shalat witir
- Shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan
- Shalat 2 hari raya
- Shalat istiharah
- Shalat tasbih

  1. Puasa
Puasa adalah salah satu Rukun Islam yang mulai disyariatkan pada tahun ke II Hijriah. Kata puasa berasal dari bahasa arab “ الصَّوْمُ ” yang berarti menahan (إمساك). Jadi, puasa menurut bahasa artinya “menahan”. Secara Terminologi, Puasa Adalah
إمساك عن مفطر بنية مخصوصة جميع نهار قابل للصوم من مسلم عاقل طاهر من حيض و نفاس
(menahan dari sesuatu yang membatalkan puasa dengan niat yang khusus pada seluruh siang harinya orang yang melakukan puasa yang berakal, dan suci dari haidl dan nifas).
Jadi, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari disertai niat dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan. Sesuai firman Allah SWT :
...وَكُلُوْاوَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ... (البقرة : 187)
Artinya : “makan dan minumlah hingga nyata bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah : 187)
Adapun hukum melakukan puasa Ramadlan adalah Wajib/Fardlu ‘Ain,  sesuai firman Allah SWT yang artinya :
 “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa.” (Qs. Al-Baqarah : 183).
Macam-macam puasa:
  • Puasa wajib (Puasa Ramadhan, Puasa Kafarat, dan  Puasa Nazar)
  • Puasa sunnah
a)      Puasa 6 hari pada bulan syawal
b)      Puasa hari asyura
c)      Puasa pada hari arafah
d)     Puasa pada bulan sya’ban
e)      Puasa daud
f)       Puasa senin-kamis
  • Puasa makruh
a)      Puasa syak
b)      Puasa pada hari-hari pertengahan bulan sya’ban
  • Puasa haram
a)      Puasa pada 2 hari raya
b)      Puasa pada hari tasyrik
c)      Puasa sepanjang masa
d)     Puasa wishal
e)      Puasa khusus hari jum’at

  1. Zakat
Menurut bahasa, “zakat” berasal dari kata zakatan-yuzakki-zakkaartinya tumbuh, suci, atau berkah. Menurut istilah Zakat adalah memberikan harta dengan kadar tertentu kepada yang berhak sebagai ibadah kepada Allah SWT. Firman Allah yang memerintahkan kewajiban zakat adalah QS. An-Nisa ayat 77:
واقيموا الصلواة واتوا االزكوة
Artinya: “… dirikanlah shalat dan tunaikan zakat … ” (QS. An-Nisa :77)
Macam-macam zakat:
1)  Zakat fitrah
2)  Zakat Maal
a)      Emas, perak dan uang
b)      Harta perniagaan
c)      Harta pertanian
d)     Hewan trnak
e)      Hasil tambang
f)       Barang temuan

  1. Haji
Rukun Islam yang ke-5 adalah menunaikan ibadah haji. Setiap orang Islam wajib menunaikan ibadah haji bila mampu, dan dalam seumur hidupnya hanya dilakukan sekali. Jika seseorang tidak menunaikan ibadah haji sedangkan ia mamapu, maka ia bukanlah termasuk orang Islam.
Pengertian haji menurut bahasa dalah القصد artinya menyengaja. Sedangkan menurut istilah haji adalah mengunjungi makkah (ka’bah) untuk mengerjakan ibadah yang terdiri dari thawaf, sa’I, wuquf, dan ibadah-ibadah lain sesuai dengan ketentuan haji, guna memenuhi perintah Allah dan mengharap keridlaan-Nya. Ibaah haji ini merupakan bagian dari syari’at bagi umat-umat dahulu, semenjak Nabi Ibrahim. Allah telah menyuruh Nabi Ibrahim a.s membangun baitul Haram di amkkah, agar orang-orang thawaf di sekelilingnya dan menyebut nama Allah ketika thawaf itu.

C.     Tingkatan-tingkatan dalam Iman dan Islam dan pencapaian muhsin
1.      Tingkatan iman
a)       tingkatan iman pertama disebut dengan ilathitsu, yaitu iman yang dimiliki oleh para malaikat, dimana tingkatan iman ini tidak pernah berkurang dan tidak pula bertambah
b)     tingkatan iman kedua disebut dengan iman ma’sum yaitu iman yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul Allah WST. Dimana tingkatan iman ini tidak pernah berkurang dan selalu bertambah ketika wahyu datang kepadaNya.
c)      Tingkatan iman ketiga disebut dengan makbul yaitu iman yang dimiliki oleh muslim dimana iman pada tingkatan ini selalu bertambah jika mengerjakan amal kebaikan dan akan berkurang jika melakukan maksiat.
d)     Tingkatan iman yang keempat disebut iman maohuf yaitu iamn yang dimiliki oleh ahli bid’ah, yaitu iman yang ditangguhkan diaman jika berhenti melakukan bid’ah maka iman akan diterima, diantaranya kaum rafidhoh, atau dukun, sihir, dan sejenisnya.
e)     Tingkatan iman yang kelima disebut dengan iman mardud, yaitu iman yang ditolak, dimana iman ini yang dimiliki oleh orang-orang musyrik, murtad, munafik, kafir, dan sejenisnya.[10]

2.      Tingatan islam

  1. Muslim
Muslim adalah Orang yang beragama Islam. Menunjukkan orang yang menyerah diri/tunduk kepada Allah swt. Seorang manusia yang telah menerima dan mengikrarakan Islam sebagai agamanya dengan mengucapkan kalimah syahadah. Artinya, orang ini percaya sudah menerima segala kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang telah digariskan oleh Islam.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua: Orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu dan jadikanlah daripada keturunan kami: Umat Islam (yang berserah diri) kepadamu dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan cara-cara ibadat kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” [al-Baqarah : 128].
MUSLIM, (akar katanya,Islam/salima artinya damai, selamat, sejahtera ) adalah orang baru menyerahkan diri saja kepada Allah, seperti anak sekolah TK, walaupun diberi pelajaran masih berbuat yang tidak baik , kita perhatikan saja anak anak yang sekolah TK, karena belum mengerti tujuab hidupnya, yah sekedar pengakuan saja. ( Surat : 7 ;172 ; 49 :14 )

  1. Mukmin
Mukmin adalah orang Islam yang beriman. Firman Allah swt :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” [al-Bayyinah : 7]
Seorang Muslim tidaklah cukup dengan pengakuan itu saja, tetapi harus diiringi dengan amal/perbuatan/tindakan yang diperintahkan oleh agamanya. Dengan melaksanakan hal itu, dia meningkat menjadi seorang Mukmin.

MUKMIN ( akar kata Iman artinya percaya , Amanah artinya orang dapat diberi kepercayaan ), adalah orang mengatakan keimanan dengan lidah , diyakini dengan hati dan dikerjakan dengan perbuatan ( mengamalkan rukun Iman 6). In adalah tingkatan : SD. ( Q. 2 : 3, 4, 5 dan 6 ; Al-Anfal : 2 dan 3 ; S. 49 : 15 )

  1. Mukhsin
Muhsin adalah Orang Mukmin yang mencapai tahap Ihsan sebagai yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. didalam sebuag hadith yang panjang. Seorang Mukmin haruslah mengerjakan perbuatan kebajikan yang disebut ihsan. Ihsan itu meliputi segala perbuatan yang baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Dari seorang Mukmin meningkat lagi menjadi seorang Muhsin.

ما الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
Apa itu Ihsan, Dia menjawab : Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatnya, dan jika kamu tidak melihatnya, ketahuilah bahawa Dia (Allah) melihat kamu [Hadith Riwayat Bukhari].
MUKHSIN ( dari kata , Ikhsan artinya : baik )adalah orang tingkatan Muslim + Mukmin, artinya orang tersebut tidak beriman saja , tapi sebagaimana Hadits Nabi SAW, yaitu : “Dia beribadah kepada Allah seakan akan melihat-Nya, tapi apabila dia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat dia.”
Ini adalah tingkatan : SLTP. ( Q. 3 : 134 ; S. Al- Qoshosh :77 )

  1. Mukhlis
Seorang Muhsin mengerjakan ihsan itu semata-mata karena berbakti kepada Tuhan, bukan karena mengharapkan pujian, sanjungan, pangkat dan lain-lain; akan tetapi sungguh-sungguh ikhlas, saat itu manusia meningkat menjadi seorang Mukhlis.
MUKHLISH (dari Ikhlas ,.. dst ) adalah orang beribadah kepada Allah, hanya mengaharapkan ridho-Nya, contoh seperti orang besedekah dengan tangan kanannya, maka tangan kirinyapun tidak. Ilutrasi lainya : Seperti orang buang air besar , setelah keluar yah.. sudah, tidak pikirkan/ di ingat-ingat, Ah… sayang ,tadi makan adalah yang enak-enak. Surat: 98:5. Ini adalah tingkatan : SLTA

  1. Muttaqin
Muttaqin adalah Orang Mukmin yang bertaqwa. Firman Allah swt :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.

Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa; Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara yang ghaib dan mendirikan (mengerjakan) sembahyang serta membelanjakan (mendermakan) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” [al-Baqarah : 2-3]
MUTTAQIN ( akar kata taqwa : takut ), secara istilah adalah : adalah orang melaksanakan perintah Allah secara sempurna, dan menjauhkan perintah Allah.Did alam Al-Qur’an banyak sekali ayat ayat yang menjelaskan sifat orang bertaqwa, antara lain Surat: ( Al-Baqoroh)2 : 2,3,4 , 5, 177, 183 ;(Al-Imron) 3: 133, 134, 135 dan 135 dll..


D.    Korelasi antara Iman, Islam, dan Ihsan
Dimensi-dimensi Islam berawal dari sebuah hadits yang meriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang dimuat dalam masing-masing kitab sahihnya yang menceritakan dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril tentang trilogy ajaran Ilahi:
Nabi Muhammad SAW keluar dan (berada di sekitar sahabat) seseorang datang menghadap beliau dan bertanya: “Haai Rasul Allah, apakah yang dimaksud dengan iman?” beliau menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan percaya kepada kebangkitan.” Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “apakah yang dimaksud dengan Islam?” beliau menjawab: “Islam adalah engaku menyembah Allah dan tidak musyrik kepada-Nya, engkau tegakkan salat wajib, engkau tunaikan zakat wajib, dan engkau berpuasa pada bulan Ramadhan.” Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “apakah yang dimaksud dengan ihsan?” Nabi Muhammad SAW menjawab: “engkau sembah Tuhan seakan-akan engkau melihat-Nya; apabila engaku tidak melihat-Nya, maka (engkau berkeyakinan) bahwa Dia melihatmu…”(Buhkari, I, t.th: 23).
Hadits di atas memberikan ide kepada umat Islam sunni tentang rukun iman yang enam, rukun Islam yang lima, dan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha hadir dalam hidup. Sebenarnya, ketiga hal itu hanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Antara yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan.
Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak abash tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam. Dalam penelitian lebih lanjut, sering terjadi tumpang tindih antara tiga istilah tersebut: dalam iman terdapat Islam dan ihsan; dalam Islam terdapat iman dan ihsan, dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari situlah, Nurcholish Madjid (1994: 463) melihat iman, Islam, dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.
Ibnu Taimiah menjelaskan bahwa din itu terdiri dari tiga unsure, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Dalam tiga unsure itu terselip makna kejenjangan (tingkatan): orang yang memulai dengan Islam, kemudian berkembang kea rah iman, dan memuncak dalam ihsan.
Rujukan Ibnu Taimiah dalam mengemukakan pendapatnya adalah surat al-Fathir [35] ayat 32: “kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri; dan di antara mereka ada yang pertengahan; dan di antara mereka ada pula yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah … ”
Di dalam al-Qur’an dan terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama dijelaskan sebagai berikut: pertama, “orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri” (fa minhum zalim li nafsih) adalah orang-orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya; kedua, “orang-orang pertengahan” (muqtashid) adalah orang-orang yang antara kebaikan dengan kejelekannya berbanding; dan ketiga, “orang-orang yang lebih dulu berbuat keaikan” (sabiq bi al-khairat) adalah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan jarang melakukan kesalahan.
Dengan penjelasan yang agak berbeda, Ibnu Taimiah menjelaskan sebagai berikut: pertama, orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan zaim, adalah orang yang baru ber-islam, suatu tingkat permulaan dalam kebenaran; kdua, orang yang menerima warisan kitab suci itu dapat berkembang menjadi seorang mukmin, tingkat menengah, yaitu orang yang telah sedang-sedang saja; ketiga, perjalanan mukmin itu (yang telah terbatas dari perbuatan zalim) berkembang perbuatan kebajikannya sehingga ia menjadi pelomba (sabiq) perbuatan kebajikannya; maka ia mencapau derajat ihsan. “orang yang telah mencapai tingkat ihsan,” kata Ibnu Taimiah, “akan masuk surge tanpa megalami azab.”
Imam al-Syahrastani dalam kitabnya, al-milal wa al-hilal, menjelaskan bahwa islam adalah menyerahkan diri secara lahir. Oleh akrena itu, baik mukmin maupun munafik adalah Muslim. Sedangkan iman adalah pemebanaran terhadap Allah, para utusan-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan menerima qadla dan qadar. Integrasi antara Islam dan iman adalah kesempurnaan (al-Kamal). Atas dasar penjelasan itu, al-Syahrastani juga menunjukkan bahwa islam adala mabda’ (pemula); iman adalah menengah (wasath); dan ihsan adalah kesempurnaan (al-kamal).[12]
Islam, Iman & Ihsan adalah satu kesatuan yg tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dangan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya lewat 3 cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriyah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriyah manusia sebagai hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yg menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan untuk mempelajari ihsan sebagai tata cara beribadah adalah bagian dari ilmu Tasawuf.

























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Iman yang sebenarnya adalah hakikat yang tersusun dari:
(1) pemahaman tentang semua perkara yang dibawa oleh Rasulullah dari segi pengetahuan
(2) pembenaran terhadap semua itu dalam bentuk akidah
(3) pengakuan terhadap semua itu dalam bentuk ucapan (yaitu syahadat)
(4) ketaatan terhadap semua itu dalam bentuk cinta dan ketundukan
(5) pengamalan terhadap semua itu secara lahir dan batin
(6) melaksanakan dan menyerukaan semua itu sesuai kemampuan.
Dalam iman terdapat terdapat 5 tingkatan yaitu tingkatan iman pertama disebut denganilathitsu, tingkatan iman kedua disebut dengan iman ma’sum, Tingkatan iman ketiga disebut dengan makbul, Tingkatan iman yang keempat disebut iman maohuf, Tingkatan iman yang kelima disebut dengan iman mardud.
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika telah mampu menunaikannya.